Selasa, 22 Mei 2012

kuliah jurnalistik dakwah


Kekerasan Ketidakpedulian, Analisa Terhadap Tayangan Televisi
Dunia yang disebut-sebut sebagai masa jahiliyah modern seperti sekarang ini, tampaknya tidak mengada-ngada. Bukti telah menunjukkan bahwa masyarakat dunia pada abad ke-21 sudah tidak mampu membedakan kawan ataupun lawan. Hal-hal yang tabu telah dianggap sebagai hal yang wajar, otak kita seolah telah tertutup oleh hingar bingarnya dunia yang menjelma sebagai miniatur surga.
            Penyebab ini semua adalah karena manusia telah berfikir secara praktis, instan dan sudah tidak ingin melewati jalan yang bernama proses. Dengan pikiran yang pendek manusia lebih tertarik kepada sesuatu yang bisa memenuhi keinginannya tanpa melihat dari segi kegunaannya. Oleh karena manusianya telah terkonstruk pikiran hedonis, media yang merupakan teman yang paling dekat dengan kita masuk dan dengan mudahnya meracuni segala hidup kita, hingga apapun yang dipersembahkan olehnya seakan-akan menjadi vitamin yang harus dikonsumsi oleh kita.
            Semua yang ada di media tidak mampu lagi untuk kita filter, kita telah percaya sepenuhnya dengan teman yang bernama media, hingga hal-hal yang berbentuk kekerasan dan terselubung tidak pernah kita rasakan. Mengapa terjadi demikian?
      Menurut Sophi Jehel ada 4 hal yang menyebabkan banyak orang dewasa kurang perhatian terhadap masalah kekerasan dalam media (2003:109) ;
1.      Ketidaktahuan orang dewasa akan budaya orang muda.
2.      Ada keyakinan kuat bahwa kehadiran orang dewasa bisa memperbaiki situasi, padahal sudah sering terlambat.
3.      Faktor  ideologi manusia menunjukkan bahwa semua bentuk pembatasan atau pelarangan akses orang muda ke media akan dianggap sebagai reaksioner.
4.      Kesulitan pendampingan karena ketidakmampuan orang tua (dalam hal waktu, pengetahuan, pedagogi dan metode)
Padahal sikap-sikap tersebut menimbulkan bahaya, yang disebut bahaya kekerasan dalam media, diantaranya adalah:
Menurut hasil studi tentang kekerasan dalam media tv di AS oleh American Psychological Association pada tahun 1995, seperti dikutip oleh Sophi Jehel, ada 3 kesimpulan:
1.      Mempresentasikan program kekerasan meningkatkan perilaku agresif
2.      Memperlihatkan secara berulang tayangan kekerasan dapat menyebabkan ketidakpekaan terhadap kekerasan dan penderitaan korban
3.      Tayangan kekerasan dapat meningkatkan rasa takut sehingga akan menciptakan representasi dalam diri pemirsa, betapa bahayanya dunia.
Salah satu bentuk kekerasan yang ada di media adalah kekerasan ketidakpedulian, dimana media menyajikan sesuatu yang efeknya bisa negatif terhadap pemirsanya, namun media tersebut tidak peduli apapun yang terjadi kepada konsumen televisi, yang mereka inginkan hanya bagaimana agar apa yang mereka produksi laku dan ditonton masyarakat.
Kekerasan ketidakpedulian media sangat berbahaya bagi pola pikir masyarakat penggunanya, karena didalamnya mengandung apa yang ada dalam Hypodermic Needle theory yakni seperti yang dikatakan oleh Jason dan Anne Hill, media massa dalam teori ini mempunyai efek langsung “disuntikkan” kedalam ketidaksadaran audience dan teori ini mempunyai pengaruh yang sangat kuat dan mengasumsikan bahwa para pengelola media dianggap sebagai orang yang lebih pintar dibanding audience, akibatnya audience bisa dikelabui sedemikian rupa dari apa yang disiarkan.
Hasil analisa yang saya lakukan terhadap tayangan televisi akhir-akhir ini adalah mengenai program yang disajikan oleh stasiun-stasiun televisi yang sangat minim sekali terhadap tujuan penyiaran yakni memberikan pendidikan bagi bangsanya, namun 95 % tayangannya tidak mendidik.
Sinetron yang menjadi kegemaran mayoritas bangsa Indonesia, adalah sinetron yang sama sekali tidak ada unsur pendidikan meski bersetting sekolah/kampus namun, isinya hanya bualan dari orang-orang “gombal” yang ujung-ujungnya masalah cinta selalu menjadi topik utama. Alur yang digunakan pun semakin amburadul dan terjadi tarik ulur serta menjauh dari kenyataan. Anehnya sinetron yang seperti ini sangat laku dan menjadi ratting tertinggi, sungguh sesuatu yang menggelikan dan telah terjadi di negeri kita.
Analisa selanjutnya yang sangat membuat hati saya teriris adalah tampilan atau gaya berbusana dari artis-artis yang menghiasi layar televisi. Aurat semakin tidak karuan diumbar secara berlebihan, rok mini semakin supermini hingga terlihat seperti tidak menggunakan rok, dadapun semakin gratis untuk dipertontonkan hingga sesuatu yang seharusnya disembunyikan rapat-rapat kini mengintip dan dapat dilihat oleh siapapun.
Trend busana seperti itu tidak pantas dipakai oleh mereka karena mayoritas penduduk negeri ini beridentitas muslim, dan tentunya akan mempengaruhi terhadap muslim-muslim lainnya yang mengidolakan artisnya. Ketidakpedulian media tersebut dalam memamerkan busana lewat artisnya membuat masyarakat semakin keluar dari batas-batas yang telah digariskan oleh agama islam. Tak jarang terjadi pemerkosaan yang diakibatkan lelaki sudah tak mampu lagi menahan pandangannya terhadap wanita-wanita yang bergaya mirip artis. Jika telah demikian siapa yang hendak dipersalahkan, lelakikah sebagai makhluk yang buas atau wanita-wanita yang tak tahu malu mengumbar tubuh yang menyilaukan para lelaki?
Apa yang akan terjadi 5 tahun mendatang terhadap anak-anak kita, jika media khususnya TV yang menjadi teman teman terdekat kemudian menjelma menjadi lawan yang begitu dahsyat meracuni pola pikir manusia?  Padahal dalam Cultivation Theory menjelaskan bahwa TV menjadi media atau alat utama dimana para penonton TV belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Gerbner sebagai tokoh dalam teori kultivasi ini, berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu, artinya media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton itu meyakininya.
Berangkat dari kenyataan yang ada, kita sebagai insan yang masih dikaruniakelebihan yakni sadar terhadap bahaya yang mengintai dan bahaya tersebut bernama kekerasan dalam media yang bersembunyi di pelupuk mata kita dan tanpa perlu ditampilkan dalam bentuk yang spektakuler, tetapi menjelma dalam kekerasan yang imanen yang hakikatnya sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari serta masuk dalam intimitas hidup seseorang atau keluarga tanpa memicu keanehan, keterkejutan, atau penolakan, maka kita harus mampu memilah dan memilih tontonan yang pantas untuk kita dan orang-orang disekitar kita untuk ditonton. Tentunya kita mengacu kepada teori uses and gratification, dimana kita sebagai pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi.
Kita sebagai pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik didalam usaha memenuhi kebutuhan, sehingga kekerasan yang ada di media dapat diminimalisir dalam otak kita dan kita tidak selalu menjadi korban ketidakpedulian dari media.

(Diambil dari berbagai sumber, yakni catatan-catatan ketika menempuh mata kuliah komunikasi massa pada semester 5.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar