Kekerasan Ketidakpedulian, Analisa
Terhadap Tayangan Televisi
Dunia
yang disebut-sebut sebagai masa jahiliyah modern seperti sekarang ini,
tampaknya tidak mengada-ngada. Bukti telah menunjukkan bahwa masyarakat dunia
pada abad ke-21 sudah tidak mampu membedakan kawan ataupun lawan. Hal-hal yang
tabu telah dianggap sebagai hal yang wajar, otak kita seolah telah tertutup
oleh hingar bingarnya dunia yang menjelma sebagai miniatur surga.
Penyebab ini semua adalah karena
manusia telah berfikir secara praktis, instan dan sudah tidak ingin melewati
jalan yang bernama proses. Dengan pikiran yang pendek manusia lebih tertarik
kepada sesuatu yang bisa memenuhi keinginannya tanpa melihat dari segi
kegunaannya. Oleh karena manusianya telah terkonstruk pikiran hedonis, media
yang merupakan teman yang paling dekat dengan kita masuk dan dengan mudahnya
meracuni segala hidup kita, hingga apapun yang dipersembahkan olehnya
seakan-akan menjadi vitamin yang harus dikonsumsi oleh kita.
Semua yang ada di media tidak mampu
lagi untuk kita filter, kita telah percaya sepenuhnya dengan teman yang bernama
media, hingga hal-hal yang berbentuk kekerasan dan terselubung tidak pernah
kita rasakan. Mengapa terjadi demikian?
Menurut Sophi Jehel ada 4 hal yang
menyebabkan banyak orang dewasa kurang perhatian terhadap masalah kekerasan
dalam media (2003:109) ;
1. Ketidaktahuan
orang dewasa akan budaya orang muda.
2. Ada
keyakinan kuat bahwa kehadiran orang dewasa bisa memperbaiki situasi, padahal
sudah sering terlambat.
3. Faktor ideologi manusia menunjukkan bahwa semua
bentuk pembatasan atau pelarangan akses orang muda ke media akan dianggap
sebagai reaksioner.
4. Kesulitan
pendampingan karena ketidakmampuan orang tua (dalam hal waktu, pengetahuan,
pedagogi dan metode)
Padahal
sikap-sikap tersebut menimbulkan bahaya, yang disebut bahaya kekerasan dalam
media, diantaranya adalah:
Menurut
hasil studi tentang kekerasan dalam media tv di AS oleh American Psychological
Association pada tahun 1995, seperti dikutip oleh Sophi Jehel, ada 3
kesimpulan:
1. Mempresentasikan
program kekerasan meningkatkan perilaku agresif
2. Memperlihatkan
secara berulang tayangan kekerasan dapat menyebabkan ketidakpekaan terhadap kekerasan
dan penderitaan korban
3. Tayangan
kekerasan dapat meningkatkan rasa takut sehingga akan menciptakan representasi
dalam diri pemirsa, betapa bahayanya dunia.
Salah
satu bentuk kekerasan yang ada di media adalah kekerasan ketidakpedulian,
dimana media menyajikan sesuatu yang efeknya bisa negatif terhadap pemirsanya,
namun media tersebut tidak peduli apapun yang terjadi kepada konsumen televisi,
yang mereka inginkan hanya bagaimana agar apa yang mereka produksi laku dan
ditonton masyarakat.
Kekerasan
ketidakpedulian media sangat berbahaya bagi pola pikir masyarakat penggunanya,
karena didalamnya mengandung apa yang ada dalam Hypodermic Needle theory yakni
seperti yang dikatakan oleh Jason dan Anne Hill, media massa dalam teori ini
mempunyai efek langsung “disuntikkan” kedalam ketidaksadaran audience dan teori
ini mempunyai pengaruh yang sangat kuat dan mengasumsikan bahwa para pengelola
media dianggap sebagai orang yang lebih pintar dibanding audience, akibatnya
audience bisa dikelabui sedemikian rupa dari apa yang disiarkan.
Hasil
analisa yang saya lakukan terhadap tayangan televisi akhir-akhir ini adalah
mengenai program yang disajikan oleh stasiun-stasiun televisi yang sangat minim
sekali terhadap tujuan penyiaran yakni memberikan pendidikan bagi bangsanya,
namun 95 % tayangannya tidak mendidik.
Sinetron
yang menjadi kegemaran mayoritas bangsa Indonesia, adalah sinetron yang sama
sekali tidak ada unsur pendidikan meski bersetting sekolah/kampus namun, isinya
hanya bualan dari orang-orang “gombal” yang ujung-ujungnya masalah cinta selalu
menjadi topik utama. Alur yang digunakan pun semakin amburadul dan terjadi
tarik ulur serta menjauh dari kenyataan. Anehnya sinetron yang seperti ini
sangat laku dan menjadi ratting tertinggi, sungguh sesuatu yang menggelikan dan
telah terjadi di negeri kita.
Analisa
selanjutnya yang sangat membuat hati saya teriris adalah tampilan atau gaya
berbusana dari artis-artis yang menghiasi layar televisi. Aurat semakin tidak
karuan diumbar secara berlebihan, rok mini semakin supermini hingga terlihat
seperti tidak menggunakan rok, dadapun semakin gratis untuk dipertontonkan
hingga sesuatu yang seharusnya disembunyikan rapat-rapat kini mengintip dan
dapat dilihat oleh siapapun.
Trend
busana seperti itu tidak pantas dipakai oleh mereka karena mayoritas penduduk
negeri ini beridentitas muslim, dan tentunya akan mempengaruhi terhadap
muslim-muslim lainnya yang mengidolakan artisnya. Ketidakpedulian media
tersebut dalam memamerkan busana lewat artisnya membuat masyarakat semakin
keluar dari batas-batas yang telah digariskan oleh agama islam. Tak jarang
terjadi pemerkosaan yang diakibatkan lelaki sudah tak mampu lagi menahan
pandangannya terhadap wanita-wanita yang bergaya mirip artis. Jika telah
demikian siapa yang hendak dipersalahkan, lelakikah sebagai makhluk yang buas atau
wanita-wanita yang tak tahu malu mengumbar tubuh yang menyilaukan para lelaki?
Apa
yang akan terjadi 5 tahun mendatang terhadap anak-anak kita, jika media
khususnya TV yang menjadi teman teman terdekat kemudian menjelma menjadi lawan
yang begitu dahsyat meracuni pola pikir manusia? Padahal dalam Cultivation Theory menjelaskan
bahwa TV menjadi media atau alat utama dimana para penonton TV belajar tentang
masyarakat dan kultur dilingkungannya.
Gerbner
sebagai tokoh dalam teori kultivasi ini, berpendapat bahwa media massa
menanamkan sikap dan nilai tertentu, artinya media mempengaruhi penonton dan
masing-masing penonton itu meyakininya.
Berangkat
dari kenyataan yang ada, kita sebagai insan yang masih dikaruniakelebihan yakni
sadar terhadap bahaya yang mengintai dan bahaya tersebut bernama kekerasan
dalam media yang bersembunyi di pelupuk mata kita dan tanpa perlu ditampilkan
dalam bentuk yang spektakuler, tetapi menjelma dalam kekerasan yang imanen yang
hakikatnya sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari serta masuk dalam
intimitas hidup seseorang atau keluarga tanpa memicu keanehan, keterkejutan,
atau penolakan, maka kita harus mampu memilah dan memilih tontonan yang pantas
untuk kita dan orang-orang disekitar kita untuk ditonton. Tentunya kita mengacu
kepada teori uses and gratification, dimana kita sebagai pengguna media adalah
pihak yang aktif dalam proses komunikasi.
Kita
sebagai pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik didalam
usaha memenuhi kebutuhan, sehingga kekerasan yang ada di media dapat
diminimalisir dalam otak kita dan kita tidak selalu menjadi korban
ketidakpedulian dari media.
(Diambil
dari berbagai sumber, yakni catatan-catatan ketika menempuh mata kuliah
komunikasi massa pada semester 5.)